Potret Kehidupan Masyarakat Desa Lamanggau Dari Status Desa Terisolasi Menjadi Desa Tujuan Wisata Dunia


MENJADI desa teriosolasi bukan berarti akan menutup peluang menjadi desa yang maju dan menjadi desa tujuan wisata dunia. Semenjak PT Wakatobi Dive Resort (WDR) merambah bumi kepulauan tukang besi, Desa Lamanggau yang terletak di Kecamatan Tomia adalah salah satu dari sekian desa di Kecamatan Tomia yang melepaskan diri dari symbol desa terisolasi.

DURIANI, Wakatobi

MESKIPUN sebelum PT Wakatobi Dive Resort (WDR) merambah kawasan desa Lamanggau sebagai desa tujuan wisata dunia tahun 1994 silam, masyarakat Desa Lamanggau 95 persen berprofesi sebagai nelayan. Dan itu tidak bisa dipungkiri, karena dengan berprofesi sebagai nelayan, mereka bisa mendapatkan hasil yang mamuaskan dan bisa menunjang kehidupan sehari-hari. Desa Lamanggau merupakan desa yang paling tinggi pendapatan perkapitanya di Kecamtan Tomia.

Namun, dari segi wawasan berpikir, pengalaman dan gaya hidup, dengan beropersainya WDR di wilayah Desa Lamanggau, symbol desa terisolasi perlahan namun pasti menjadikan Desa Lamanggau sebagai desa yang berdiri sejajar dengan desa lainnya di Kecamatan Tomia, bahkan sampai pada desa yang lebih duluan maju dari desa yang berada di Kabupaten Wakatobi. Hal ini diungkapakan Kades Lamanggau, La Abukari.

Desa Lamanggau mekar dari Desa Waitii pada tahun 1993 silam, sekarang ini dengan jumlah penduduk 530 jiwa yang terdiri dari 256 kepala keluarga (KK). Dari jumlah itu, terdapat 530 jiwa terdaftar sebagai wajib pilih sesuai dengan data pada pemilihan calon legislatif (Pilcaleg) tahun 2009 lalu. Desa Lamanggau juga berpotensi untuk berkembang menjadi desa besar, menyusul masuknya desa tersebut menjadi desa tujuan wisata domestik maupun wisata dunia.

Hadirnya WDR di Desa Lamanggau (onemobaa), cukup memberikan andil bagi pembangunan dan terlebih lagi pada tingkat kesejahteraan masyarakatnya. Pada tahun 2003 lalu, 200 KK mendapat suplay tenaga listrik secara gratis dari WDR. Dan kini, bertambah menjadi 250 KK sudah menikmati kemudahan itu. Kebutuhan akan listrik telah terpenuhi, anak-anak usia sekolah bisa belajar dengan mudah di malam hari, bahkan di gedung sekolah, masjid, balai desa sudah mendapatkan penerangan lampu secara cuma-cuma. “Dengan demikian, kegiatan produktivitas usaha masyarakat bisa dilakukan hingga malam hari”, ujar La Abukari.

Informasi melalui siaran televisi pun sudah bisa diakses oleh warga Desa Lamanggau. Kini stigma Lamanggau sebagai desa terisolasi tidak ada lagi, karena sudah sejajar dengan desa/kelurahan lain di Kabupaten Wakatobi. Aktivitas pariwisata di Onemobaa yang hanya beberapa ratus meter dari wilayah Desa Lamanggau, menambah wawasan dan penghasilan warga.

Anak-anak bisa menambah pengetahuan berbahasa Inggris, kain/sarung tenunan masyarakatpun sangat diminati wisatawan (tamu PT Wakatobi Dive Resort, red) untuk dibawa pulang ke negaranya. Belum lagi dengan dipekerjakannya 36 orang putra-putri terbaik Desa Lamanggau di WDR, semua ini merupakan simbol kebangkitan masyarakat Desa Lamanggau yang tadinya terisolasi dan terbelakang.

Masyarakat Desa Lamanggau 95 persen bermata pencaharian sebagai nelayan, sisanya adalah pelayar dan pedagang. Sejak dua tahun terakhir, jumlah tangkapan ikan disekitar pulau Tomia sangat berlimpah dan menambah pendapatan keluarga. Hal ini juga dikarenakan aktivitas perusahaan WDR dalam melindungi terumbu karang dan mengamankan beberapa tempat pemijahan telur-telur ikan serta meningkatnya kesadaran masyarakat dalam melakukan penangkapan ikan dengan alat tangkap yang ramah lingkungan.

Menurut La Abukari, keberadaan PT Wakatobi Dive Resort di Onemobaa sangat membantu. “Kami harap bisa terus bekerjasama dengan PT WDR untuk melindungi karang dan dengan hal itu lebih banyak tamu bisa datang dan masyarakat Desa Lamanggau bisa maju dan lebih maju lagi dari yang sekarang ini”, ujarnya. (***)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s